Langsung ke konten utama

KONSEP DASA TITAH DAN TABUT PERJANJIAN


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Dasa Titah dan Tabut merupakan suatu unsur yang sangat penting dalam kehidupan Bangsa Israel. Dasa Titah merupakan daftar perintah agama dan moral yang ditulis dan diberikan kepada Israel melalui perantaraan Musa yang memiliki keistimewaan yang terkenal bagi Israel, dalam agama Yahudi dan Kristen sekarang ini, yang menjadi sebuah pedoman yang mengatur tingkah laku dan tabut merupakan tempat dimana Allah hadir dan menyertai bangsa Israel. Pemberian dasa titah dalam Keluaran 20:1-17 merupaakan tanda perjanjian yang ditawarkan kepada Israel dalam Keluaran 19:5 dan ketaatan akan perjanjian itu akan membuat Israel menjadi umat Allah. Jadi, Keluaran 17:1-17 mengemukakan tuntutan-tuntutan perjanjian dan perjanjian tersebut disahkan dalam upacara yang penuh khikmad sperti yang dikemukakan dalam Keluaran 24::3-8. Sedangkan tabut perjanjian merupakan sebuah tempat loh batu yang ditulisi loh batu. Tabut tersebut ditempatkan dalam Kemah Suci yang merupakan suatu hal yang sangat penting bagi Israel yang baru saja menerima perjanjian Sinai, sebagai tempat Allah hadir dengan umat-Nya,Israel.

B.     PERMASALAHAN
Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah:
1.      Apa dan bagaimanakah konsep Dasa Titah dan Tabut itu?
2.      Bagaimanakah hubungan pemberian Dasa Titah serta dengan perjanjian Allah?
3.      Apa makna Dasa Titah dan Tabut perjanjian itu bagi Israel dan bagi kita sekarang dalam konteks masa kini?

C.    TUJUAN
Adapun yang menjadi tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar dapat mengetahui konsep Dasa Titah dan Tabut serta makna Dasa Titah itu bagi Israel maupun bagi kita dalam konteks masa kini.






BAB II
PEMBAHASAN


A.    KONSEP DASA TITAH DAN TABUT

1.      Dasa Titah
Dasa Titah, sepuluh Firman Allah, atau Dekalog diberikan dalam dua bentuk (Keluaran 20 dan Ulangan 5) merupakan hukum Ibrani yang paling awal, yang ditulis dan diberikan kepada Bangsa Israel melalui perantaraan Musa dalam dua loh batu. Setiap loh batu berisi sepuluh perintah, sesuai dengan kebiasaan lazim, bahwa setiap perjanjian memiliki dua salinan. Hukum-hukum dasar ini ditambah dengan banyak sekali rincian selam bertahun-tahun, namun dekalog tetap merupakan ringkasan yang memudahkan untuk mengingat dan untuk resitasi umum serta fundamental bagi kesatuan bangsa Israel.
Teks Dasa Titah dalam Keluaran 20:1-17 juga terdapat dalam Ulangan 5:6-21. Versi Ulangan mengandung lebih sedikit perbedaan dibandingkan dengan versi keluaran. Dalam kitab keluaran dikatakan bahwa perintah untuk merayakan hari Sabat merujuk pada kisah pekerjaan Allah sendiri/kisah penciptaan Allah sendiri dalam menciptakan langit, bumi dan segala isinya, dan pada hari ketujuh Tuhan berhenti bekerja dan memberkati pekerjaan-Nya. Sementara dalam kitab Ulangan, perayaan Sabat merujuk pada kisah pembebasan Israel dari perbudakan di Mesir. Hari sabat dirayakan untuk memberikan kesempatanberistirahat kepada setiap hewan yang ada karena bangsa Israel sendiripun dulunya adalah bangsa budak yang kemudian diberikan kebebasan olh Allah. Karena itu, sekarang Israel pun dilarang memperbudak orang lain, dan makhluk lainnya (Ulangan 5:14-15).

2.      Perjanjian dan Pemberian Dasa Titah di Sinai
Setelah pembebasandi laut Teberau, Israel melakukan perjalanan langsung ke Sinai yang memerlukan waktu tiga bulan lamanya (Kel Ps. 9,4;19:1). Beberapa peristiwa dalam perjalanan itu diceritakan dalam Keluaran 15-18.
Di Sinai, orang Israel berkemah di kaki gunung tersebut, semntara Musa mendakinya. Di sana Allah berbicara kepadanya dan memberitahukan bahwa orang Israel akan menjadi milik Allah sendiri diantara semua bangsa “jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku” (19:5) Perintah-perintah dan peristiwa-peristiwa berikutnya mengungkapkan bahwa sesuatu yang dashyat akan terjadi. Pada masa pengudusan selama tiga hari orang Israel harus mencuci pakaian dan mempersiapkan diri (ayat 9-15), sementara Allah menyatakan diri-Nya dalam kebesaran dan keagungan (ayat 16-18).
Ditengah-tengah situasi yang mendebarkan dan menegangkan ini, Allah memanggil Musa dan memberikan Dasa Titah (20:1-17).

3.      Makna dan Peranan Dasa Titah
Makna dan peranan Dasa Tita sangat diperdebatkan dan dipahami dengan cara yang berbeda-beda. Makna yang utama jelas terlihat dalam cara menceritakan peristiwa itu. Bila dibaca dengan seksama, kita melihat bahwa titah-titah itu adalah perjanjian yang ditawarkan kepada orang Israel dalam keluaran 19:5 dan ketaatan akan perjanjian itu akan membuat Israel menjadi umat Allah. Meskipun pengertian ini tidak jelas dalam konteks Keluaran 19-20, namun cerita ulan oleh Musa dalam Ulangan 5 ditegaskan bahwa:
 “TUHAN, Allah kita, telah mengikat perjanjian dengan kita di Horeb. Bukan dengan nenek moyang kita TUHAN mengikat perjanjian itu, tetapi dengan kita, kita yang ada di sini pada saat ini, kita semuanya yang masih hidup . . Ia berfirman: ;Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir. . .” (ayat 1-6.)”.
Sama seperti perjanjian Allah dengan Abraham dalam Kejadian 15, perjanjian disini adalah cara untuk menetapkan hubungan yang diikrarkan dengan sumpah dalam upacara peneguhan. Dalam keluaran 19:3-8 Israel dipanggil untuk masuk kedalam hubungan yang khusus dengan Allah yang dilukiskan dengan tiga cara, yakni menjadi harta kesayangan Allah diantara segala bangsa yang kudus, serta menjadi kerajaan imam dan kudus. Israel akan menjadi menjadi umat Allah sendiri. Walaupppun isi yang khusu dari ikatan perjanjian ini belum di ungkapkan, namun Israel menerimanya dengan peneguhan khikmad (ayat 8). Dalam Keluaran 20:1-17 dukemukakan tuntutan-tuntutan perjanjian dan dalam Keluaran 24:3-8 perjanjian itu disahkan dalam upavara khikmad dan disahkan denganpersembahan kurban dan percikan darah.
Ikatan perjanjian ini berbeda dengan perjanjian Abraham yang hanya dalam hal sipa yang mengikatkan diri dengan sumpah. Dalam perjanjian Abraham, Allahlah yang menempatkan diri-Nya dibawah sumpah, Dialah yang diikat oleh janji-janji yang tidak dapat diubah oleh Abraham dan keturunannya. Dalam perjanjian Sinai, Israellah yang mengangkat sumoah dan wajib menaati peraturaan-peraturan perjanjian itu.

4.      Latar Belakang Bentuk dan Sastra perjanjian Sinai
Akhir-akhir ini, latar belakang bentuk dan sastra diketahui sangan mirip dengan perjanjian internasional antara raja dan maharaja lain di Timur tengah kuno (Perjanjian raja Gitit). Meskipun bentuknya sudah dikenal luas dan dipergunakan antara abad ke-20 dan 10 Sm, namun contoh yang terbanyak dan terlengkap mengenai perjanjian antara raja dan maharaja lain ditemukan dalam kumpulan naskah orang Het dari Boghaskoy (abad ke-14 dan ke-13 sM) sebagian besar unsur-unsur bentuk ini ditemukan dalam perikop-perikop yang berkenaan dengan perjanjian Sinai, khusunya Keluaran 20:1-17:
1.      Prakata (menyebut nama maha raja dan gelar-gelarnya): “Akulah TUHAN, Allahmu” (ayat 21). Allah tidak memerlukan gelar-gelar lebih lanjut titah tersebut setelah pengungkapan nama-Nya.
2.      Riwayat historis (mengemukakan hubungan sebelumnya antara kedua belah pihak dan menekankan perbuatan baik sang maharaja demi rakyat taklukannya. Perbuatan ini menjadi dasar terima kasih pihak penakluk serta kesetiaan dan ketaatannya pada masa yang akan datang): ” yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, tempat perbudakan” (ayat 2b).  Tinjauan historis disini sangan singkat, tetapi ingatan orang Israel akan pembebasan oleh Allah itu masih segar. Dalam Yosua 24, upacara pembaharuan perjanjian di Sikhem, riwayat historisnya lebih panjang dan terperinci (ayat 2-13).
3.      Pereturan-peraturan perjanjian terdiri atas:
a.       Tuntutan dasar untuk taat dan setia: “Jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku” (20:3).
Dalam naskah Dasa Titah ini bersifat negatif (larangan, Jangan....), adalah bertujuan untuk melahirkan kasih karunia Allah. Walaupun Allah harus secara negatif menentang manusia (Baca: Israel) secara negatif, tetapi hal itu tidak d ajukan-Nya sebagai kutukan terakhir, melainkan sebagai suatu ukuran hidup dalam lingkungan persekutuan perjanjian yang sudah dipulihkan.
b.      Peraturan-peraturan khusus (yang dalam suatu perjanjian berfungsi untukmenyelarasakan hubungan-hubungan dalam kerajaan yang bersangkutan), ayat 4-17.
4.      Peraturan untuk:
a.       Penyimpanan naskah-naskah: loh-loh batu yang berisi ayat 1-17 yang disimpan dalam tabut perjanjian (Kel 25:16; Ul 10:1-5).
b.      Pembacaan isinya didepan umum secara berkala Ul 1:10-13)
5.      Kutuk dan berkat dibebankan kepada raja taklukan apabila melanggar atau memenuhi perjanjian: berkat (Ul 28:1-14), kutuk (ayat 15-16).
Kesamaan yang dekat dan terinci itu memperlihatkan bhwa bentuk perjanjian maharaja dengan raja lain diambil dan dikembangkan untuk kepentingan keagamaan serta teologis dari ikatan uang khusus ini.
Jadi, Dasa Titah jelas tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi sistem hukum, yang dengan menaatinya orang dapat berkenan kepada Allah. Dasa Titah adalah ketentuan-ketentuan perjanjian yang berakar dalam anugerah Allah. Ia telah menebus umat-Nya dengan  dari perbudakan di Mesir, maka Ia mengikat mereka kepada-Nya melalui perjanjian-Nya.
Tetapi, perjanjian itu juga mengajukan ancaman yang menakutkan dan berat bila mereka tidak taat (bnd. Kel19:5)
Jadi, Dasa Titah bukanlah hukuman dalam pengertian modern, karena tidak didefinisikan dengan cermat dan tidak berisi hukuman. Dasa titah adalah kebijaksanaan hukum, pernyataan pokok tentang perilaku yang hendak dipelihara oleh umat perjanjian, yang dapat disimpulkan dalam dua garis besar yaitu:
Pertama, bahwa perjanjian itu berdasarkan pada pemilihan Allah yang menebus dan melepaskan bangsa Israel dari tanah Mesir, dan bahwa perjanjian itu terus berlaku sampai keturunan yang kesekian ribu dan dipertanggungjawabkan pada rahmat-Nya yang setia. Hal ini menuntut bangsa Israel untuk hanya beribadah kepada Allah dan bukan kepada allah lain/dewa-dewa bangsa kafir.
Kedua, berisi tentang aturan hubungan manusia dengan sesama yang menuntut penghormatan atas kehidupan manusia, pernikahan (perkawinan), dan hak milik.
           
5.      Tabut, Tabut Perjanjian
Tabut adalah sebuah perkakas yang terbuat dari kayu, sudah dikenal di Timur Tengah Purba pada jaman sebelum Musa. Tabut dipakai sebagai dipakai sebagai  tempat penyimpanan dokumen yang mengandung ketentuan-ketentuan perjanjian,yakni kedua loh batu yang ditulisi Dasa Titah. Tabut ini ditempatkan dalam kemah suci. Tabut Srael bersifat unik, dilapisi dengan emas sebagai wadah suci yang mudah dibawa.
Tabut perjanjian (Dalam Bahasa Inggrisnya, Ark of The Covenant; atau dalam Bahasa Ibrani, ‘Aron Haberit) digunakan untuk menyimpan 2 Loh Batu yang berisi yang berisi sepuluh Firman. Namun ini bukanlah Loh Batu yang meruakan “tulisan” Allah, yang ditulis “dengan jari Allah”. Karena Loh Batu yang asli sudah dicampakkan oleh Musa (Keluaran 32:19), yang kemudian Musa membuat Loh-Loh Batu “duplikat”, yang ditulis dan dipahat oleh Musa (Keluaran 34:28). Tabut yang digunakan untuk menyimpan 2 Loh Batu ini disebut juga tabut hukum Allah/ tabut Allah/tabut perjanjian Allah/tabut kesaksian.
Tabut dibuat di Sinai oleh Bezaleel menurut pola yang di sampaikan oleh Musa (Kleuaran 25:8). Dan dalam  Keluaran 25:10-22 dan 37:1-9 digambarkan bahwa tabut tersebut berbentuk peti agak  persegi panjang dibuat dari kayu penaga, ukuran P 2.5 x L 1.5 x T 1.5 hasta, kira-kira 1.3x1x1m. seluruh tabut ditutupi dengan emas dan nutuk menagngkut tabut itu digunakan tingkat kayu yang dimasukkan ke lobang gelang-gelang pada keempat penjurunya. Tutup tabut dibuat dari emas yang merupakan tempat Tuhan menyatakan kehendaknya;  diujung kedua tutup pendamaian/tutup tabut terletak satu kerub. Wajah kedua kerub itu berhadapan dan sayap masing-masaing tertentang. Diatas kedua kerub serta diatasnya tampak awan berapi “syekinah” yang menyala diatasnya. Tutup pendamaian diperciki darah dan direangi awan kemuliaan merupakan perantaraan ddoa syafaat di hadirat Allah.
Tabut memainkan peranan penting dalam peristiwa penyeberangan sungai Yordan (Yosua 3:3-4), peristiwa jatuhnya Yerikho (Yosua 5-6), dan upacara peringatan perjanjian di Gumug Ebal (Yosua 8:3a). Dari Gilgal tabut dipindahkan ke Betel Hakim 2:1; 20:27), lalu dibawa ke silo pada zaman Hakim-Hakim (1 Samuel 1:3; 3:3), dan disana terus dirampas oleh orang Filistin  di medan pertempuran Ebeb-Haezer (1 Samuel 4). Kehadiran tabut di kota-kota Filistin menimbulkan wabah-wabah di kota itu selama 7 tahun. Karena itu orang Filistin mengembalikan tabut itu ke Kiryat-Yearim, dan disanalah tabut itu tinggla selama 20 tahun (2 Samuel 5:1-7:2)
Kemudian raja Daud menempatkan tabut di sebuah kemah di Yerusalem (2 Samuel 6) dan tidak mau memindahkannya selam pemberontakan Absalom. Dengan upacara kebesaran raja Salomo menempatkan tabut di Bait Suci (1 Raja-Raja 8:1)
Jadi, Tabut merupakan tenpat menyimpan Dasa Titah (Kel 25:16, 21; 40:20; Ulangan 10:1-5),buli-buli berisi manna dan tongkat Harun. Tabut adalah sarana pertemuan didalam tempat kudus darimana Tuhan menyatakan kehendak-Nya kepada pelayan-Nya, dan sangan berperan penting dalam menentukan nasib bangsa Israel dalam peperangan (perang suci).


























BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Dasa Titah merupakan siatu aturan yang mengatur kehidupan manusia dalam hubungan dengan ksetiaan kepada Allah dan dalam hubungan dengan sesama dalam hal penghormatan atas kehidupan manusia, perkawinan, dan hak milik.
Tabut merupakan sarana penyertaan Tuhan dan merupakan lambang kehadiran Allah ditengah-tengah umat-Nya, khusunya dalam perang. Tabut perjanjian menandai adanya penyertaan Tuhan.
Roh Kudus yang telah dimeteraikan dalam hati orang percaya (Efesus 1:13) adalah tanda kehadiran Allah. Dia menyertai kita sebagai penolong yang sejati, oleh karen itukita jangna takut dalam segala tenpat dan situasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Gereja Kristen Sumba dan Budaya

BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Sebagai warga gereja yang hidup di bumi Indonesia, khususnya Gereja Kristen Sumba yang hidup dan bertumbuh di Pulau Sumba, merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa kita hidup dalam masyarakat yang masih sangat kuat memelihara dan dipengaruhi oleh kebudayaan Sumba yang diwarisi dari generasi terdahulu. Sadar atau tidak sadar, ada banyak norma kebudayaan yang iktu mengatur dan membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat Sumba hingga sekarang ini. Hal ini tetap terjadi pada saat orang Sumba menerima dan menyatakan kesetiaan menjadi pengikut Kristus. Pengaruh kebudayaan   Sumba tempat dimana kita lahir dan bertumbuh tentu tidak bisa diabaikan, tetapi sebaliknya tetap mewarnai kehidupan kita sehari-hari, terutama dalam sejarah perkembangan kekristenan di Sumba, dalam hal ini sejarah Gereja Kristen Sumba. Menyadari kenyataan tersebut diatas, maka Gereja Kristen Sumba yang lahir dan bertumbuh serta berk...

PERISTIWA KELUARNYA BANGSA ISRAEL DARI TANAH MESIR (Makna Sosiologis-Teologis)

     Peristiwa Keluarnya Bangsa Israel dari Mesir. Keluarnya bangsa Israel dari Mesir adalah hal yang pokok dalam iman Perjanjian Lama. Peristiwa ini merupakan inti dalam iman orang Yahudi. Orang Yahudi selalu mengingat masa ketika Allah bertindak membebaskan leluhur mereka dari perbudakan di Mesir. Hal ini dapat dilihat pada keterangan yang sangat karakteristik bagi Allah dalam Perjanjian Lama berbunyi sebagai berikut: “Akulah Tuhan Allahmu, yang mengeluarkan engkau dari tanah Mesir”. Allah seperti itulah yang diberitakan oleh para nabi. Nabi Amos mengatakan “Akulah yang menuntun kamu keluar dari tanah Mesir. Nabi Hosea memberitakan, “Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir kupanggil anak-Ku.” Kalau ada anak bangsa Israel/Yahudi bertanya kepada ayahnya tentang makna perintah yang mengikat bangsa Mesir itu, sang ayahnya harus menjawabnya sebagai berikut: “Kita dahulu adalah budak Firaun di Mesir, tetapi Tuhan membawa kita keluar dari Mesir dengan tan...