Peristiwa Keluarnya Bangsa Israel dari Mesir.
Keluarnya
bangsa Israel dari Mesir adalah hal yang pokok dalam iman Perjanjian Lama.
Peristiwa ini merupakan inti dalam iman orang Yahudi. Orang Yahudi selalu
mengingat masa ketika Allah bertindak membebaskan leluhur mereka dari
perbudakan di Mesir. Hal ini dapat dilihat pada keterangan yang sangat
karakteristik bagi Allah dalam Perjanjian Lama berbunyi sebagai berikut:
“Akulah Tuhan Allahmu, yang mengeluarkan engkau dari tanah Mesir”. Allah
seperti itulah yang diberitakan oleh para nabi. Nabi Amos mengatakan “Akulah
yang menuntun kamu keluar dari tanah Mesir. Nabi Hosea memberitakan, “Ketika
Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir kupanggil anak-Ku.” Kalau ada
anak bangsa Israel/Yahudi bertanya kepada ayahnya tentang makna perintah yang mengikat
bangsa Mesir itu, sang ayahnya harus menjawabnya sebagai berikut:
“Kita
dahulu adalah budak Firaun di Mesir, tetapi Tuhan membawa kita keluar dari
Mesir dengan tangan yang kuat. TUHAN membuat tanda-tanda dan mujizat-mujizat,
yang besar dan mencelakakan, terhadap Mesir. Terhadap Firaun dan seisi
rumahnya, di depan mata kita....” (Ul. 6:21-22; band. Kel. 20:2; Ul.5:6).
Cerita tentang keluarnya bangsa
Israel dari tanah Mesir telah berabad-abad lamanya diceritakan sejak orang
Israel keluar dari tanah Mesir. Cerita-vcerita ini bukanlah laporan-laporan
yang terperinci yang berasal dari masa keluaran dari Mesir. Cerita tersebut
banyak dibubuhi legenda dan legenda tersebut berbeda-beda dan tetap diingat
oleh Israel seputar peristiwa keluaran dari Mesir. Legenda itu kemudian
digabungkan kedalam buku-buku sejarah mereka.
Peristiwa-periwtiwa yang terjadi
seputar keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir berkenaan dengan musibah yang
terjadi di tanah Mesir dan peristiwa lainnya adalah peristiwa yang terjadi
secara alamiah. Tulah-tulah, misalnya, merupakan musibah alamiah/peristiwa alam
yaang ada hubungaannya dengan keadaan lembah sungai Nil. Demikian juga dengan
mujizat burung puyuh dan manna di padaang gurun di padang gurun (Kel 16) serta
air yang memancar dari bukit batu (Kel. 17). Namun demikian, adalah sangat
menarik bahwa semua peritiwa itu diceritakan berkaitan dengan karya Allah.
Peristiwa itu dibuat berdasarkan pemahaman iman bahwa Allah berada di pusat
peristiwa itu. Dan karena itu, maka tidaklah mungkin untuk mengurangi nada keajaiban
dalam peristiwa itu.
Kisah Musa (Kisah kelahiran dan
perjalanan hidupnya).
Cerita
tentang kehidupan Musa diceritakan dengan jelas dalam kitab Keluaran-Ulangan.
Ibunya seorang wanita Israel (Kel. 2:2), dibesarkan dalam Istana Mesir (Kel.
2:10), dan melarikan diri karena telah membunuh orang (Kel. 2:11-15). Cerita
dalam kedua kitab tersebut selalu ditemukan tentang peranan Musa yang sangat
sentral dan menonjol. Peranan Musa juga ditonjolkan dalam cerita perjalanan 40
tahun di padang gurun sampai menjelang masuk tanah Kanaan. Seluruh cerita yang
panjang tentang Musa terdiri dari beberapa penggal cerita yang berbeda-beda
yang kemudian digabungkan menjadi satu.
Cerita
tentang kelahiran (bayi) Musa telah di bubuhi legenda. Namun nama Musa atau
“Moses” itu sendiri ternyata sangat kena-mengena dengan keadaan dan kebiasaan
di Mesir kuno. Memang dalam Alkitab ditemukan bahwa nama ‘Musa’ dihubungkan
dengan sebuah kata MASHA yang artinya ‘menarik’ atau ‘mengangkat’. Tetapi di
Mesir kuno nama ‘Musa’ juga ada hubungannya dengan sebuah kata dalam bahasa
Mesir yang artinya ‘lahir’. Kata itu sering ditemui dalam nama-nama raja Mesir
yang dihubungkan dengan nama para dewa, seperti misalnya ‘Thut Mosis’ (yang
artinya ‘lahir dari Thut’) dan Ra-messes (yang artinya ‘lahir dari Ra’).
Meskipun
demikian kita meragukan atau tidak berbicara secara pasti tentang historisitas
kehidupan Musa, namun Perjanjian Lama sama sekali tidak ragu mengemukakan
pentingnya tokoh Musa. Justru dengan kehidupan dan kisah pemanggilan Musa (yang
walaupun bukan historis atau dibubuhi legenda) tersebut memperkenalkan tentang
pemahaman iman Israel akan pernyataan sifat dan nama Allah. Misalnya, dalam
pemanggilan Musa dipadang gurun, ia bertemu dengan Allah yang kehadiran-Nya
ditandai dengan semak belukar yang menyala namun tidak terbakar hangus (Kel.
3:2). Banyak orang berpendapat bahwa semak belukar itu menyala karena sinar
matahari yang terbenam. Pendapat lainnya adalah bahwa ada pancaran gas alam
yang keluar dari dalam tanah dan menyala
pada semak itu dengan suhu rendah sehingga semak tidak hangus. Mungkin juga
semak belukar itu hanya ada dalam khayalan dan pikiran Musa tetapi tidak ada
secara nyata. Namun cukup saja kita mengetahui bahwa pengalaman tersebut telah
mmbawa musa kedalam persekutuan dengan Allah. Dan dalam persekutuan tersebut
Allah memperkenalkan diri-Nya “AKU ADALAH AKU” yang berarti “IA ADA” atau “IA
AKAN ADA” dan mengandung makna “AKULAH” yang menyebabkan “ADA”. Allah (YHWH)
itu adalah Allah yang mempunyai sifat mendasar/essensial yang dinamis dan
aktif. Nama Allah juga mengandung kerahasiaan bahwa Allah itu adalah misteri
yang mengantarkan kepada sikap untuk mengenal hakekat Allah bahwa walaupun
dalam kerahasiaan itu, Ia adalah Allah yang dikenal melalui kehadiran-Nya yang
aktif dalam sejarah bangsa Israel.
3 Sepuluh Tulah di Mesir.
Kesembilan
tulah pertama merupakan rangkaian yang berkesinambungan (7:8-10-29) dan
dipisahkan dari tulah kesepuluh. Kisah kesembilan tulah dibentuk dengan
menggolongkan dengan mengolongkan kedalam tiga kelompok yang masing-masing yang
terdiri atas tiga tulah. Dari setiap kelompok itu, dalam tulah pertama Musa
diperintahkan untuk menghadap Firaun; dalam tulah kedua ia diperintahkan datang
menghadap Firaun di istananya; dalam tulah ketiga diperintahkan membuat gerak
isyarat yang menimbulkan tulah itu tanpa pemberitahuan kepada Firaun.
Pola
ini dan unsur-unsur sastra lainnya (de Vaux 1978:hal. 361-365) menunjukkan
isyarat bahwa riwayat tersebut mempunyai sejarah penurunan yang panjang secar
lisan maupun tulisan sebelum mencapai bentuknya yang sekarang. Tetapi dengan
magakui bahwa suatu kejadian telah lama diturunkan secara lisan dan tulisan,
tidak berarti kita meragukan nilai historisnya. Nila ini hanya dapat ditetapkan
dengan memutuskan apakah yang diturunkan itu cocok dengan latar belakang zaman
yang dibicarakan dan apakah dapat diperkuat atas dasar-dasar lain.
Kelompok 1
|
Kelompok 2
|
Kelompok 3 Struktur
|
|
1.
Air menjadi darah
|
4.
Tanah Lalat
|
7.
Hujan es, tumbuhan musnah
|
Musa menemuai Firaun
pagi-pagi di tepi sungai
|
2.
Katak-katak dari sungai menutup tanah
|
5.
Penyakit sampar pada ternak
|
8.
Belalang memakan sisa
|
Musa
mengahadap Firaun
|
3.
Nyamuk memenuhi negeri
|
6.
Barah menyerang orang dan ternak
|
9.
Gelap gulita
|
Musa dan Harun
tidak menemui Firaun tetapi membuat isyarat simbolik
|
a. Tulah
pertama: Air menjadi darah
Tulah tersebut dimulai
dengan banjir sungai Nil yang luar biasa besar akibat hujan yang terus menerus.
Air yang banya itu membawa tanah merah yang khas dari dataran Abesinia dan
Etiopia dalam jumlah besar ditambah denganm jasad renik yang disebut flagelata. Inilah yang menyebabkan
sungai Nil menjadi merah-darah dan kotor serta menimbulkan pencemaran air yang
mematikan ikan-ikan
b. Tulah
kedua: Katak
Ikan-ikan yang membusuk
membuat katak-katak meninggalkan tepi sungai dan menyebabkan penyakit organisme
Bacillus antharacis, yang pada
gilirannya menyebabkan katak-katak tersebut mati mendadak.
c. Tulah
ketiga dan keempat: Nyamuk dan Lalat Pikat
Tulah ketiga dan
keempat adalah nyamuk dan lalat Stomoxis
calcitrans, keduanya akan berkembangbiak dengan pesat dalam genangan air
yang tak mengalir akibat banjir sungai Nil.
d. Tulah
kelima: Penyakit Sampar pada Ternak
Penyakit ternak yang
diakibatkan oleh tulah kelima adalah penyakit anthrax yang disebabkan oleh katak-katak yang mati membusuk
e. Tulah
keenam: Barah
Barah pada manusia dan
ternak adalah anthrax kulit, yang
terutama ditularkan melalui gigitan lalat pada tulah keempat.
f. Tulah
ketujuh: Hujan Es
Hujan es dan badai pada
musim ketika peristiwa itu terjadi, akan menghancurkan tanaman rami dan jelai,
tetapi tidak merusak gandum dan sekoi.
g. Tulah
kedelapan: Belalang
Tanaman gandum dan
sekoi ini kemudian diserang belalang yang sangat banyak jumlahnya karena hujan
yang luar niasa tersebut,
h. Tulah
kesembilan: Gelap Gulita
Hujan yang luar biasa
tersebut diatas, akhirnya gelap gulita. Gelap gulita menggambarkan khamsin yang luar biasa kuat, yang
diperburuk oleh debu merah halus yang tebal dari endapan lumpur sisa banjir
mula-mula.
Dalam penjelasan alami ini unsur-unsur mujizat yang terkandung dalam
kedashyatan peristiwa itu pada waktu yang bersamaan dengan tuntutan Musa kepada
Firaun. Rupanya Allah menggunakan keteraturan alam untuk tujuan-Nya sendiri.
i.
Kematian anak sulung
Para ahli mengatakan
bahwa peristiwa kematian anak sulung bukanlah peristiwa alamiah tetapi
merupakan pekerjaan Allah atau keajaiban. Para ahli yang lain mengatakan bahwa
dalam keadaan yang darurat akibat bencana yang terjadi sebagaimana disebutkan
diatas menimbulkan kelaparan dan penderitaan. Sehingga dalam keadaan seperti
ini, yang mendapat prioritas untuk mendapat makanan adalah anak sulung. Kondisi
pangan pun tidak menjamin kesehatan sehingga anak sulung menjadi mati.
Adapun penduduk Israel
tidak mendapat bencana dan kematian anak sulung karena mereka tinggal terpisah
dari penduduk Mesir (Gosyen) dan juga makanan atau kebiasaan makan mereka yang
berbeda dari orang Mesir sehingga mereka aman dari bencana.
Makna sosiologis dan teologis dari peristiwa peristiwa diatas:
a. Makna
Sosiologis: Peristiwa sepuluh tulah diatas merupakan peristiwa alamiah yang
disebabkan oleh bencana yang sering terjadi di tanah Mesir. Peristiwa tersebur
berkaitan dengan keadaan sosial bangsa Mesir.
b. Makna
Teologis: Pertama, bahwa terjadinya hukuman sepuluh tulah tersebut bagi orang
Mesir merupakan akibat dari kemarahan parea dewa, sedangkan Musa mengambil
kesempatan dari bencana ini untuk membenarkan bahwa hukuman Allah pasti
terjadi. Kedua, peristiwa ini menggambarkan pemahaman teologis bangsa Israel
pada waktu itu bahwa Allah berkuasa atas alam , dan Ia bisa menggerakkan alam
untuk melakukan kehendak-Nya. Ketiga, peristiwa tersebut diatas
menggambarkan bahwa pemerintahan tangan
besi dan kekuasaan baal/dewa berakhir dan kalah atas kekuasaan dan kedaulatan
Allah.
Laut Teberau Terbelah Dua.
Menurut
Keluaran 14 orang-orang Israel melarikan diri terperangkap diantara tentara
Mesir yang menyeberang dan Laut Teberau, dan melalui suatu keajaiban
orang-orang Israel dengan selamat menyeberanginya sedangkan orang Mesir
tenggelam didalam laut itu. Laporan mengenai hal ini dapat ditemukan dalam
syair Kel. 15:1-21. Dalam terjemahan bahasa Inggris atas syair tersebut, bagian
laut yang diseberangi orang Israel disebut Red Sea atau Laut Merah (15:4).
Dalam naskah Ibrani sendiri, nama Laut tersebut adalah laut ‘Gelagah’ padahal
di laut Merah tidak terdapat jenis tumbuhan Gelagah. Pasti air yang diseberangi
orang Israel bukanlah laut Merah tetapi perairan lain. Laut yang diseberangi oleh
orang Israel bukanlah Laut Merah atau The Red Sea, tetapi The Reed See, Laut
alang-alang (Alkitab TB LAI: Laut Teberau) yang dangkal yang pada waktu surut
dapat diseberangi dengan mudah. Nama yang sama yaitu
Laut Gelagah atau Laut Teberau dipakai dalam Kel. 13:18 dan 14:22. Mungkin yang
dimaksudkan adalah air di sebelah tenggara atau sebelah timur kota Pitom, dan
mungkin penyeberangan itu berlangsung di tempat itu.
Keluaran
14:21 memberikan dua laporan tentang peristiwa yang terjadi sehingga
orang-orang Israel dapat menyeberanginya dengan mudah:
1. Dilaporkan
bahwa ada suatu angin timur yang bertiup kencang menguakkan air laut sehingga
membuat air laut itu menjadi tanah kering.
2. “Maka
terbelahlah laut itu”, dan dalam ayat 22 diberitakan bahwa “orang Israel itu
berjalan dari tengah-tengah laut di tempat yang kering”.
Laporan yang pertama memperlihatkan suatu kejadian alamiah yang terjadi
di tempat yang dangkal. Sedangkan laporan yang kedua menggambarkan kejadian itu sebagai suatu
mujizat dimana angin itu bertiup kencang dan menyibakkan air sedemikian rupa
sehingga membentuk jalan ditengah-tengah laut itu. Peristiwa terbelahnya laut
Teberau ini bukanlah peristiwa yang benar-benar terjadi, tetapi peristiwa
alamiah/bukan keajaiban. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya catatan sejarah
bangsa Mesir tentang raja mereka yang tenggelam di laut Teberau. Kemungkinan
yang lain mengatakan bahwa berlangsungnya penyeberangan itu bisa terjadi karena
saat itu terjadi gempa bumi akibat letusan gunung berapi. Reruntuhan gunung
karena gempa itu mungkin telah menimbun laut dan menahan arus air untuk sementara waktu
sehingga bangsa Israel bisa menyeberang.
Meskipun demikian, cerita ini dianggap sebagai mujizat dalam rangka
puj-puji kepada Allah, dan jika ditinjau dari segi pemahaman iman yang muncul
dari pengalaman manusia dengan Allah maka peristiwa itu bermakna bahwa Ia
berkuasa atas alam dan menggunakan kekuatan alam untuk mencapai maksud-Nya.
Kehadiran-Nya juga dapat kita rasakan lewat peristiwa yang terjadi dalam
kehidupan kita.
5
Tiang
Awan dan Tiang Api, Manna dan Burung Puyuh, serta Air Pahit.
a.
Tiang Awan dan Tiang Api
Hal ini berkaitan
dengan peristiwa penyeberangan pada saat terjadi gempa bumi sebagaimana telah
disebutkan diatas, bahwa pendapat diatas merujuk pada kejadian terbentuknya
tiang awan dan tiang api. Tiang awan di waktu siang dan tiang api di waktu
malam. Tiang awan dan tiang api terjadi karena asap dan api yang terjadi karena
letusan gunung berapi. Asap yang muncul pada siang hari merupakan tiang awan,
dan api yang muncul dari gunung berapi pada waktu malam disebut sebagai tiang
api. Kedua tanda ini menjadi penuntun bagi bangsa Israel dalam perjalanan
mereka dari Mesir menuju tanah perjanjian.
b. Manna
dan Burung Puyuh
Kata Manna dalam bahasa
Ibrani berarti “apakah ini” (Kel.
16:14). Mungkin manna adalah sejenis zat yang dihasilkan oleh serangga yang
hidup pada pohon-pohon tamariska yaang bertumbuh di padang gurun.
Dalam Kel. 16:13
terdapat keterangan mengenai burung puyuh. Burung-burung ini adalah burung yang berpindah dari Eropa ke
Afrika Utara secara musiman, namun kemudian mereka terhempas oleh badai dari
rute penerbangan mereka dan akhirnya mendarat di padang gurun dalam keadaan
payah dan lemas sehingga dapat ditangkap dengan mudah. Peristiwa ini merupakan
peristiwa yang terjadi secara alamiah yang menggambarkan cara atau pola hidup
di padang gurun.
c. Air
pahit menjadi manis
Air yang pahit menjadi manis merupakan peristiwa
alamiah. Sebab Musa sudah terbiasa hidup dipadang gurun terutama ketika ia
menjaga ternak milik Pamannya, Yitro, tentu ua tahu bagaimana mengubah air yang
pahit menjadi manis.
Meskipun demikian, tidaklah berarti bahwa cerita tersebut bukan kisah
yang tidak mengandung keajaiban dalam kerangka pemahaman iman. Makna teologis
dari kisah ini adalah bahwa Allah berkuasa atas alam dan Ia senantisa menyertai
kita dimanapun kita berada. Dimanapun kita berada, kita harus bersyukur dan
yakin kepada Tuhan bahwa Ia senantiasa memelihara kita. Apapun makan dan
minuman yang tersedia sesuai dengan karakteristik daerah dimana kita berada,
itu adalah berkat Tuhan bagi kita.
Komentar
Posting Komentar